October 26, 2016

Lulusan KTP, Mau jadi Apa?




Beberapa waktu yang lalu saya mendapat undangan dari kampus, tepatnya dari jurusan Kurikulum dan TeknologiPendidikan (KTP) FIP UNNES di mana saya sempat ngawruh ngelmu beberapa tahun di sana. Undangan tersebut dalam rangka visitasi akreditasi jurusan. Tentunya ini kabar baik bagi semua ‘pengguna’ atau yang sedang ‘menggunakan’ jurusan ini untuk mencari ilmu.


Read More …

June 24, 2016

Balapan Nikah

Memasuki beberapa hari setelah selesai menunaikan salah satu anjuran Nabi, banyak hal yang saya alami. Sungguh nikmat yang luar biasa dari kemurahan Tuhan yang sudah begitu loman kepada semua hamba-Nya. Bagaimana tidak, doá demi doá yang dipanjatkan dan dihaturkan selalu mendapatkan jawaban dan di-ijabah kalau kata orang saleh.Anjuran tadi yang saya maksud adalah dipersatukan dengan pasangan hidup. Di mana pada awal-awal sebelum memasuki perjalanan yang memang sudah diatur oleh Tuhan sebagai sutradara kehidupan.
Lantas saya teringat pada beberapa celoteh yang dihasilkan dari lingkungan sosial akibat dari dampak psikologi sosial. Pada masa lajang atau begini saja meminjam istilahnya anak muda kekinian yaitu “jomblo”, banyak suara dari berbagai arah dan sudut menyerukan kapan nih kog belum terlihat gebetannya. Bagi sebagian orang mendengar hal ini mungkin akan merasa risih dan bisa saja tersinggung hatinya untuk kemudian memasang raut wajah yang tidak familiar.
Belum lagi ada pula yang berteriak, mau nunggu apa usia udah makin nambah, apalagi yang mau dicari, nunggu mapan? Nunggu siap?  Dan seterusnya, dan seterusnya… .
Tulisan ini bukan hanya berangkat dari pengalaman dan perjalanan si penulis itu sendiri lho ya, namun lebih dari itu. Saya hanya merasa heran dan merasa perlu untuk mengutarakan pendapat, terserah diterima atau tidak.
Pertama, urusan punya gebetan atau tidak itu sangat jauh dari yang namanya ia “laku” atau tidak, “normal” atau tidak atau bahkan mungkin tidak pernah terbesit sedikitpun untuk mengembarai yang namanya gebetan itu tadi. Tiap individu memiliki keputusannya sendiri tanpa bayang-bayang dari orang lain. Menurut saya sih, yang lebih tahu kepribadian kita ya diri kita sendiri ini. Orang di sekiling kita memang punya andil secara psikologis dalam perkembangannya sebagai bentuk interaksi kemasyarakatan dan komunikasi sosial.
Jadi, punya gebetan atau tidak, sudah laku atau belum, normal atau enggak. Itu sama sekali tidak ada urusan dengan celoteh para mahluk di sekitar kita tadi. Jadi anggaplah mereka sedang mendoakan kita dengan cara mereka sendiri. Jangan mengotori hati nurani kita dengan kemudian bersikap sinis terhadap mereka. Tidak perlu buang-buang energi untuk itu. Lah memangnya kalau sudah punya gebetan, lantas mereka akan ikut terlibat mengusung proses hingga menjadi lebih dari sekedar gebetan? Memangnya mau jadi tim suksesnya? Mau jadi penyandang dana untuk terselenggaranya suatu perhelatan? Tidak, kan?!
Kedua, bahkanpun ketika sudah menemukan pasangan yang nantinya hendak dibawa pada jalinan yang lebih serius masih saja ada yang teriak dengan suara dan ekspresi beraneka ragam. Menikah bukan soal, ndang cepet – nunggu apa dan seterusnya dan seteruuusnyaa… . Ini bukan soal cepet-cepetan, bukan balapan MotoGP ndul!
Kalau boleh menganalogikan, saya menggunakan konsep berpikir sederhana saja. Begini, ibarat manusia mau (maaf) buang hajat namun yang bersangkutan belum benar-benar ingin mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam sana maka ya tidak akan mungkin keluar. Jika tidak memang bukan karena kehendak Tuhan, ya tidak bakalan nongol. Biar bagaiamanapun mau dengan aksi ngeden sekalipun.
Jadi, kurang lebih analoginya seperti itu tadi. Betapapun dahsyatnya desakan dari sana-sini untuk segera menikah, namun Tuhan belum berkehendak sudah barang tentu ini tidak akan terjadi. Hal yang mungkin dapat dilakukan adalah peka terhadap setiap kejadian dan takdir di sekeliling kita sehingga kita mampu membaca kehendak Tuhan. Nek ora obah ya ora entuk gabah, jika menggunakan istilah Jawa. Setidaknya ya kita juga jangan ndableg-ndableg amat. Kerjasamalah dengan Tuhan, biar segera didekatkan dan dipantaskan untuk menikah.
Ketiga, saya pernah mendengar ungkapan bahwa mungkin saat ini sedang dipertemukan dengan orang yang salah supaya nantinya bertemu dengan orang yang benar (tepat). Perlu diketahui bahwa Tuhan tidak pernah main-main dalam setiap menentukan nasib hamba-Nya. Tidak ada yang namanya bertemu dengan orang yang salah hanya karena pada akhirnya tidak jadi bersanding di pelaminan. Semuanya memang Tuhan menghendaki seperti begitu adanya.
Untuk dulur-dulur di luar sana yang masih single, lajang, jomblo atau apapun istilah kekiniannya jangan khawatir untuk tidak menjadi seperti kehendak-Nya. Dengarkan saja apapun suara yang menggema, teriakan yang memekik, jeritan yang meronta untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Karena memang demikianlah cara mereka mendoakan kita supaya ndang-segera-ASAP menyusul seperti mereka.
Memang tidak mudah mendengarkan suara yang beranekaragam itu. Namun, jangan pernah sekali-kali untuk menaruh pikiran negatif terhadap siapapun.
Keep going. Just do what you have to do. Be yourself. Enjoy your life.
Menurut saya, dalam hidup mau tidak mau harus siap mendengarkan setiap pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Himpun seluruh energi, daya dan upaya untuk setidaknya memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di hidup kita. Ukirlah sejarah, bekerja keraslah, karena kita ini memang pelaku sejarah.

Semarang, Juni 2016


Sumber Gambar:
  • http://98five.com/what-makes-a-happy-and-lasting-marriage/
  • dokumentasi pribadi

Read More …

June 20, 2016

Berganti Peran


Kebanyakan kita manusia sangat gemar sekali menghabiskan waktu senggangnya dengan bermain atau hanya sekedar menikmati kebersamaan dengan keluarga, kawan, atau bahkan mungkin teman dekat. Ada banyak destinasi yang menjadi sasaran untuk menghabiskan waktu senggang. Ada yang berdiam diri di rumah sembari bersih-bersih ruangan hingga pada membersihkan halaman rumah. Ada pula yang sengaja keluar rumah untuk menikmati suasana baru, misalkan saja ke tempat-tempat wisata, café, taman kota, berkunjung ke sanak family, mall-mall (pusat perbelanjaan), swalayan, supermarket, bioskop, dan lain sebagainya. Sementara yang lainnya ada yang dengan gembira dan jingkrak-jingkrak luar biasa hanya cukup berkunjung ke tempat yang bersentuhan dengan alam, misalkan saja ‘muncak’ (naik gunung), ke pematang sawah, ladang, mencari ikan di sungai sekaligus berenang di kolam alami bentukan sungai (baca: kedung). Banyak sekali tempat-tempat yang bisa dikunjungi untuk mengisi waktu luang kita. Ada yang bepergian berdasarkan keinginan, hasrat, perasaan, dan gengsi belaka. Namun, ada juga yang bepergian yang diniatkan pada kebermanfaatan dalam mengisi waktu senggang yang memang sudah direncanakan jauh sebelum waktu senggang tersebut datang.
Bagi mereka yang berada di perkotaan, memang cukup banyak pilihan tempat-tempat yang dapat dikunjungi saat liburan tiba. Dari mulai yang sederhana hingga pada yang mewah sekalipun. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebiasaan kita dalam mengisi waktu luang memiliki sangat banyak kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang berbeda sama sekali.
Ada hal yang menarik ketika saya bepergian ke salah satu tempat pusat perbelanjaan atau bahasa modern-nya mall. Maksud dan tujuan saya datang ke sana bukan untuk mejeng atau sekedar jeng-jeng semata. Bagaimana mungkin manusia macam saya ini punya peluang untuk melakukan hal-hal yang sifatnya senang-senang layaknya manusia perkotaan. Lah wong saya ini dibesarkan dari lingkungan yang sama sekali jauh dari yang namanya kota. Ke pasar pun hampir tidak pernah, karena memang lokasinya jauh dari tempat tinggal saya. Jelas saja jauh, karena saya ini tinggalnya di desa, bahkan nggunung (semacam dataran tinggi).
Kebetulan saja setelah beranjak besar biarpun belum bisa dikatakan dewasa, saya berkesempatan untuk mengenal dan bahkan tinggal di daerah kota. Sebut saja ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Siapa yang tak mengenal Kota ini. Nah, kembali ke omong-omong soal mall tadi. Niat saya berkunjung ke mall sebenarnya hanya ingin nonton layar lebar yang sebenarnya ini untuk pertama kalinya. Itupun saya diajak kawan saya yang kebetulan sudah punya pengalaman bagaimana masuk ke tempat seperti itu. Kebanyakan orang menyebutnya sih bioskop, namun bagi saya itu hanya sebuah ruangan besar yang di dalamnya menghadirkan suguhan hiburan tertentu yang diisi oleh banyak kursi dan kursi itu dikomersilkan.
Sebelum memasuki ruangan/bioskop saya harus melalui beberapa tahapan, tentunya membeli sebuah tiket supaya saya bisa ndeprok di dalam gedung bioskop. Karena film yang akan saya tonton itu premiere, hal yang saya alami adalah berjejal-jejal dengan calon penonton lainnya untuk antre beli tiket. Cukup lama untuk mengantre sebuah kertas kecil yang bertuliskan judul film tersebut.
Setelah tiket sudah ditangan ternyata saya harus menunggu jam tayang film tersebut, karena memang film ini banyak digemari penonton. Dengan sangat ‘piye meneh’ saya harus menunggu jam tayang berikutnya. Terdamparlah saya di ruang tunggu bioskop tersebut untuk menunggu film.
Disela-sela waktu menunggu tibanya jam tayang film yang ingin saya tonton, saya duduk di ‘emperan bioskop’. Terlihatlah seorang petugas kebersihan yang ada di area gedung bioskop tersebut. Sejatinya ruangan tersebut sudah cukup bersih. Hanya saja beberapa sampah memang terlihat, namun tidak begitu kotor.
Petugas kebersihan itu masih terbilang cukup muda, dia melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat. Jauh dari yang namanya malu atau gengsi dengan jenis pekerjaan yang disandangnya sekarang. Tidak seperti kebanyakan anak-anak muda pada umumnya, dia begitu optimis dan mantap atas apa yang dia kerjakan. Anda bisa melihat lagak-lagu anak muda jaman sekarang, mereka sudah sangat modern dan hanyut pada manisnya peradaban abad 21.
Saat itu saya hanya berpikir bahwa betapa mulianya pekerjaan anak muda tersebut. Ia bekerja bukan hanya semata untuk mencari uang, namun lebih dari itu. Bisa saja ia bekerja untuk keluarganya, orang tuanya yang sedang sakit, untuk membiayai sekolahnya sendiri atau adiknya, bahkan mungkin saja ia merupakan ujung tombak keluarga. Tidak ada yang tahu. Namun yang jelas, ia melakukannya dengan keseluruhan niat dan hati yang ikhlas. Mungkin sesekali ia terbesit untuk bergabung  dan nelusup di gedung bioskop sekedar untuk menghilang penat. Tapi hal itu ia urungkan demi tugas dan kewajiban yang mesti ia penuhi.
Tidak banyak anak muda macam ini. Seandainyapun ia diberi pilihan pada alternatif kesempatan yang lain, mungkin saja ia tolak. Ia berkeyakinan lebih baik seperti ini daripada melakukan sesuatu hal melalui jalan “pintas”.
Apabila di dunia ini, ada yang namanya pergantian peran antar manusia. Ia menjalani kehidupan saya, sementara saya menjalani kehidupannya. Mungkin saja saya sendiri belum tentu sanggup melakukannya.

Semarang, 2015-2016



Read More …

June 16, 2016

Gelar Yang Tak Tersematkan



Seorang teman bertanya kepada saya. “Serius ini Pak gelarnya ga dicantumkan?” Ini berawal dari sebuah undangan yang beberapa waktu lalu saya bagikan. Memang kebetulan ada nama lengkap saya di sana.

Memang untuk keperluan tertentu, penulisan gelar diperlukan. Tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang memiliki banyak gelar akan dengan sangat mudah menuliskannya secara lengkap. Bahkan apabila gelar tersebut kelupaan ditulis dalam lembar tertentu, dengan susah payah dan usaha sekeras mungkin akan dilakukan penulisan ulang demi terteranya gelar di dalamnya.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah gelar itu benar-benar dibutuhkan? Benarkah gelar tersebut sengaja dijadikan alat untuk mengetahui identitas seseorang? Mungkinkah gelar berguna untuk membangun hubungan komunikasi sosial? Ataukah hanya untuk menunjukkan status sosial tertentu? Mungkin saja hanya untuk menunjukkan stratifikasi sosial semata?
Supaya terlihat bahwa ia merupakan orang yang berbeda dari kebayakan orang di sekelilingnya? Agar setiap orang menghormati yang memiliki gelar tersebut? Atau memang gelar tersebut di-show-kan supaya mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat?
Untuk beberapa hal, gelar memang diperlukan. Misalkan saja, gelar akademik yang memang secara administratif harus dipenuhi untuk prosedur tertentu. Pun itu tidak berlaku ketika yang bersangkutan (yang memiliki gelar) sudah tidak berada pada tempat yang semestinya menggunakan gelar. Apakah seseorang yang memiliki gelar PhD., S.Pd., Prof. lantas akan menyandangnya setiap saat?
Sedangkan ia hidup tidak hanya berlaku sebagai satu karakter saja. Bagaimana ketika ia adalah seorang ayah yang baru saja memiliki seorang anak kecil? Ketika anaknya tiba-tiba merengek (maaf) minta pipis atau bahkan buang air besar, lantas minta untuk dibersihkan setelah melakukan aktifitas tadi. Karena memang untuk ukuran anak kecil yang memang belum bisa mengerahkan segala akal dan pikirannya (nalar), jadi hanya bisa merengek pada ayahnya untuk kemudian minta membersihkan alat yang digunakan untuk pembuangan tadi. Sudah barang tentu, sebagai ayah akan membersihkan (baca: nyeboki) anaknya tersebut tanpa berpikir apakah dia memiliki gelar atau tidak. Mungkinkah hanya sekedar ingin melakukan tugas seorang ayah terhadap anaknya, lantas harus berpikir ulang terhadap gelar yang disandangnya tadi?
Ada apa dengan gelar? Mengapa harus ada gelar? Apakah gelar harus ada?
Sebagian masyarakat kita memang masih banyak sekali yang fanatik terhadap hal yang satu ini. Bahkan hanya untuk mendapatkan gelar, mereka melakukan banyak upaya. Mati-matian untuk memperolehnya, entah dengan cara yang wajar maupun yang isntant. Baik untuk kepentingan mencari ilmu maupun hanya sebatas mengejar karir semata.
Bukankah semakin orang tersebut memiliki gelar, semakin ia rendah hati dan sumeleh terhadap sesama dan terhadap apapun. Baik kepada orang yang sama-sama memiliki gelar apalagi terhadap mereka yang tidak memiliki gelar.
Jadi, kenapa saya memilih untuk tidak mencantumkan gelar? Apakah gelar tersebut benar-benar ada? Sedangkan kita dilahirkan ke dunia ini tidak membawa apa-apa sama sekali, bahkan kita ini (maaf) telanjang bulat saat lahir. Jangankan sebuah gelar, nama sajapun kita tidak punya. Nama itu dipersiapkan hanya untuk memudahkan kita memanggil satu sama lain. Nama itu sesungguhnya tidak ada, ia diada-adakan. Begitu pula dengan gelar.
Menurut hemat saya gelar hanya diperlukan pada tempat yang tepat. Bukan dijadikan alat untuk membanggakan diri, menonjol-nonjolkan diri apalagi dijadikan alat kesombongan. Bukan sama sekali.
Apapun itu gelarnya.

Sumber Gambar : http://www.nakhodaku.com/2012/07/daftar-singkatan-gelar-akademik-di-indonesia.html 

Read More …

January 6, 2015

Bruwun kecipir

Oleh: Bentar Saputro

Seingat saya waktu itu masih duduk di bangku SMP hingga SMA. Ada hal yang sangat menarik dan membuat saya sangat gembira untuk menunggu saat-saat itu. Bruwun. Kata ini mungkin terdengar aneh dan sangat jarang ditemukan dalam obrolan-obrolan di warung, kampus, kantor apalagi di kalangan obrolan gaul anak muda jaman sekarang. Bruwun berasal dari kata Jawa, yang artinya memetik, memanen atau mengunduh. Kemungkinan besar kata ‘bruwun’ hanya akan sering terdengar di desa-desa atau bahkan di kampung-kampung pegunungan.

Sejak kecil saya tidak asing dengan kata bruwun. Tanpa disadari dalam keseharianpun saya mempraktekkan langsung aktifitas yang disebut bruwun tadi. Pasalnya, pada musim-musim tertentu (biasanya musim sehabis menanam/’tandur’ padi). Selang beberapa minggu selepas proses menanan padi selesai, biasanya terdapat galengan di sawah. Galengan adalah batasan petak di sawah yang sering dijadikan untuk lewat/melintasi dari tempat satu ke tempat lainnya. Nah, galengan tersebut dijadikan untuk tandur/menanam kecipir. Tentunya yang namanya kecipir tidak kemudian langsung ditanam melalui kecipir itu sendiri. Hal ini yang menjadi pertanyaan besar saya mengenai awal mula bagaimana kecipir itu ditanam. Dari mana benihnya? Setahu saya memang sebelum kecipir lahir layaknya kecipir, benihnya berasal dari “botor”. Lebih dulu mana kecipir atau botor? Tapi tak usahlah kita memperdebatkan itu. Mari kita salami saja nikmat Tuhan ini dengan segala misteriNya.
Botor ini berasal dari kecipir yang umurnya paling tua, sehingga dibiarkan mengering hingga kulit luarnya berwarna hitam yang di dalamnya terdapat biji kecipir berwarna coklat. Begitulah kurang lebih perjalanan si kecipir hingga menjadi botor. Atau sebaliknya, si botor yang menjadi kecipir. Mana yang lebih dulu antara kecipir dan botor? Entahlah, ini mirip dengan kisah antara ayam dan telur.

Pemandangan yang indah dan sejuk menyelimuti proses penanaman kecipir di sawah. Kala itu saya sedang menemani nenek sekaligus membantu nandur kecipir tersebut. Kami melakukan semacam kerjasama dalam hal ini. Saya dan nenek berbagi tugas. Tugas yang pertama adalah manja, sementara tugas yang kedua adalah muwur. Pasti tugas tersebut akan sangat terdengar asing oleh siapapun yang belum pernah mendengarnya. Baik, akan saya jelaskan tugas-tugas tersebut sepemahaman saya. Pertama adalah tugas manja. Ini bukan soal seseorang yang sedang kolokan bagai anak minta dimandiin oleh ibunya setiap pagi. Manja berasal dari kata panja, yakni sepotong kayu (kayu apapun saja) sepanjang ± 1,5 meter yang ujungnya dibuat runcing yang berfungsi untuk melubangi tanah pada saat nanti masuk pada proses muwur. Manja merupakan kata kerja (orang/pelaku yang melakukan kegiatan menggunakan alat bernama panja), sedangkan panja adalah kata benda (alat itu sendiri). Kemudian tugas berikutnya adalah muwur merupakan proses penyebaran benih yang dilakukan dengan memasukkan benih ke dalam tanah berlubang yang sudah dipanja terlebih dahulu. Benih yang dimasukkan ke dalam tanah tidak asal comot, namun ada batasan minimal jumlah butir benih yang dimasukkan. Benih dimaksud adalah botor. Setiap lubang yang di galengan memiliki jumlah minimal 3 – 5 butir/biji. Galengan merupakan batas petak atau semacam jalan yang berada di tengah-tengah sawah (sudah saya singguh di awal tulisan).

Kedua tugas tersebut kami kerjakan dengan sangat teliti dan penuh dengan kahati-hatian. Kami sepakat untuk berbagi tugas, manja dipegang langsung oleh nenek saya sedangkan saya didapuk untuk mengerjakan tugas muwur. Setiap tugas memiliki peran dan caranya sendiri. Proses menanan benih kecipir harus segera dikerjakan sebelum galengan benar-benar kering dan mengeras tanahnya. Ini dimaksudkan supaya pada saat proses manja, tidak diperlukan tenaga yang ekstra untuk mengerjakannya. Apabila tanah pada galengan tersebut sudah mulai mengering dan keras maka akan menyulitkan proses manja tadi. Dalam pengerjaannya proses manja dilakukan dengan cara berdiri dan menghantam-hantamkan panja ke tanah (galengan) hingga membentuk sebuah lubang yang nantinya akan ditaburi biji botor atau benih kecipir yang sudah disiapkan sebelumnya. Lubang yang dipanja tersebut diberi jarak kurang lebih 5 sampai 7 centimeter. Ini dimaksudkan agar jaraknya tidak terlalu rapat, mengingat kecipir ini merupakan jenis tumbuhan yang merambat. Hal ini dilakukan terus-menerus dengan cara melubangi tanah menggunakan panja dari pangkal galengan hingga ke ujung galengan. Itulah gambaran tugas nenek saya pada saat proses me-manja. Sementara itu, tugas saya adalah melakukan muwur, semacam menabur benih. Muwur ini dilakukan dengan cara menunduk dan biasanya mengikuti atau berada tepat di belakang yang sedang manja tadi yakni nenek saya. Mengapa tepat berada di belakang? Karena dimaksudkan supaya proses pengerjaannya berbarengan dengan proses me-manja. Apabila sampai tertinggal dengan yang me-manja, ini akan menjadi tugas berat pe-muwur untuk melakukan proses check and recheck mana saja lubang yang sudah ditaburi benih dan mana saja yang belum ditaburi benih. Tugas pe-muwur memiliki tugas ganda, antara lain (1) melakukan proses muwur itu sendiri (2) mengubur atau menutupi benih tadi dengan tanah yang ada disekitar lubang tersebut. Ini bertujuan untuk menutupi benih-benih yang sudah ditabur supaya tidak dimakan tikus, ayam dan sekutunya atau apapun saja yang biasa ‘menjarah’ area sawah.

Kami melakukan kerjasama dengan sungguh-sungguh yang berkonsentrasi pada tugas dan perannya masing-masing. Setelah kami selesai dengan tugas dan peran yang sudah dimandatkan, pada akhirnya sayapun lega karena dapat menuntaskan pekerjaan yang saya yakin tidak semua anak muda ‘mau’ melakukannya. Untuk yang baru saja saya sebutkan dengan tanda petik, saya tidak akan menjelaskan lebih detil alasan ke-mengapa-annya.

Proses menabur benih kecipir sudah selesai dan masih ada pekerjaan berikutnya untuk tahap paling pamungkas. Pekerjaan yang dimaksud adalah nglanjari. Lagi-lagi istilah yang saya gunakan ini adalah istilah-istilah yang sangat lokal bahkan mungkin ndeso, saya yakin ada istilah lain yang digunakan namun dengan maksud dan pemaknaan yang sama. Istilah nglanjari berasal dari kata lanjaran, yaitu sebuah potongan bambu berukuran ±1,5 cm yang sudah dibelah menjadi beberapa lapis untuk kemudian diruncingkan pada bagian ujungnya. Hampir sama dengan bentuk panja, hanya saja ukuran lanjaran lebih kecil dan terbuat dari bambu sedangkan panja terbuat dari kayu yang agak besar. Lanjaran ini bertujuan untuk menopang tanaman kecipir yang sudah mulai menampakkan pertumbuhannya. Lanjaran merupakan noun, sedangkan nglanjari adalah verb-nya. Yang perlu diingat adalah proses nglanjari dilakukan sekitar 1 minggu setelah tanaman kecipir mulai merambat.
Setelah kami, manusia sudah melakukan tugas dan kewajibannya hal yang dilakukan berikutnya adalah berserah dan seraya memohon kepada Tuhan. Maksud saya adalah setelah manusia sudah berusaha nandur, maka manusia sama sekali tidak memiliki kemungkinan untuk mengatur laju pertumbuhan tanaman yang sudah ditanam tadi. Mati atau hidup, tumbuh atau tidak tumbuh, subur atau tidak subur, dan seterusnya. Kita tidak memiliki kemungkinan untuk mengatur itu semua. Pasti akan ada campur tangan Tuhan yang secara langsung terlibat untuk mengatur laju pertumbuhan kecipir tadi. Apabila Tuhan sudah turun tangan maka giliran kecipir ini yang akan menjalankan tugasnya sesuai dengan perintah Tuhan. Setelah apa yang dilakukan manusia sebagai wujud usaha, ikhtiar dan upaya menanam dengan sungguh-sungguh maka Tuhan akan menaburkan cinta-Nya pada manusia dan kecipir.

Singkat cerita, tanaman kecipirpun tumbuh dengan subur dan mengeluarkan hasil yang nyata. Akhirnya kami menyambutnya dengan gegap gempita menyambut kehadiran kecipir yang nampak hijau muda nan menggoda untuk segera dipanen (baca: bruwun). Kurang lebih itulah pengalaman saya bersama dengan kecipir. Sungguh saya sangat senang melakukannya, bersamaan dengan liburan sekolah maupun tidak liburanpun saya mengalaminya secara langsung. Saya yakin pengalaman seperti ini tidak akan dijumpai pada setiap anak seusia saya waktu itu. Jangankan anak-anak yang tinggal di pelosok-pelosok perkotaan yang nota-bene nya jarang ditemukan sawah, anak-anak yang tinggal di pusat pedesaaan atau pegununganpun belum tentu memiliki pengalaman yang sudah saya jlentrehkan di atas. Namun itu semua bukan berarti mereka yang tidak pernah mengalami hal yang saya alami lantas kemudian tidak suka atau gengsi bahkan malu melakukannya, hanya saja mereka belum pernah merasakan nikmatnya itu semua. Yang harus dilakukan adalah terjun langsung dan sama-sama ‘mengalami’.

Semarang, 6 Januari 2015
 
 
Source: http://bit.ly/1wgeQjp

Read More …

My Tweet