August 6, 2014

Ya, Sama-sama (Memaafkan)

Oleh: Bentar Saputro

Berawal dari perjalanan panjang yang penuh dengan perjuangan dan usaha yang sungguh-sungguh. Setelah melewati dalam kurun waktu satu bulan penuh menjalani kewajiban untuk menahan haus dan lapar bahkan menahan diri dari segala hawa nafsu yang buruk. Berikut serangkaian agenda-agenda yang menunjang semakin meningkatnya kualitas keimanan seseorang dalam bulan yang penuh hikmah dan ampunan. Setelah kesemuanya itu sudah dilalui dan bahkan dikerjakan dengan kesungguhan untuk kembali melahirkan sesuatu yang baru dalam diri manusia, tibalah manusia masuk ke dalam hari ‘kemenangan’. Ini merupakan bentuk hadiah dari Tuhan kepada manusia, setelah melalui perjalanan yang luar biasa yakni Hari Raya Idul Fitri. Semua menyambutnya dengan gegap gempita untuk merayakannya dengan penuh rasa syukur dan mendapatkan kemenangan di hari yang Fitri.

Dalam tradisi manusia Indonesia khususnya, ada yang menarik dalam rangka menyambut hari kemenangan. Mulai dari gema takbir yang terdengar dihampir setiap sudut lingkungan mereka yang merayakannya hingga hidangan-hidangan yang disajikan di hampir setiap rumah. 
Hampir di setiap hari raya Idul Fitri kebanyakan orang mengucapkan permohonan maaf kepada sesama manusia yang lainnya. Ucapan tersebut dapat disampaikan secara langsung maupun disampaikan dengan memanfaatkan bebagai media yang ada saat ini. Saya juga sering mendapatkan hal yang sama, yakni ucapan hari raya idul fitri dan permohonan maaf. Baik secara langsung maupun dari berbagai media sosial, seperti sms, BBM, WA, Facebook dan lain sebagainya.

Dari semua ucapan-ucapan lebaran dan ucapan permohonan maaf, saya mencoba untuk memahami dan memaknai ucapan tersebut. Berikut penggalan kata (ucapan lebaran dan permohonan maaf) yang pernah saya kirim : “Salam. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.”  Berbagai balasanpun masuk setelah beberapa saat saya kirimkan. Ada yang membalas dengan kata-kata yang panjang, puitis, ke-arab-araban, berpantun dan masih banyak lagi. Entah itu hanya sekedar copy-paste atau justru langsung mem-forward sms dari sumber lain.
Bukan soal puitis, ke-arab-araban, atau forward. Saya sering mendapati kata-kata bahwa ketika saya mengucapkan kata maaf, hampir kebanyakan orang yang saya jumpai langsung menjawabnya dengan ucapan ya, sama-sama. Semuanya hampir mengatakannya seperti itu. Ini yang membuat saya berpikir lebih dalam, bahwa ketika meminta maaf yang saya sampaikan ke orang lain justru yang saya dapatkan hanyalah semacam pasrah-memasrahkan kesalahan dan permohonan maaf kembali dari lawan bicara saya. Bukannya memaafkan terlebih dahulu atas kesalahan saya yang sudah diperbuat (tentunya masih dalam konteks ucapan meminta maaf), tetapi kebanyakan dari mereka justru berbalik meminta maaf atas kesalahan mereka juga.

Sederhananya begini, bahwa ketika meminta maaf semestinya ada jawaban atas permintaan tersebut. Hanya ada dua kemungkinan jawaban yang dimaksud, yaitu DIMAAFKAN atau BELUM DIMAAFKAN.
Jawaban pertama ‘dimaafkan’, jawaban ini mengindikasikan bahwa dari komunikasi dua arah ini sudah memaafkan kepada orang pertama yang kemudian dilanjut oleh orang kedua untuk mengucapkan kata meminta maaf juga kepada orang pertama. Entah ikhlas atau tidak dalam hal memaafkan tadi, hanya antara mereka dan Tuhan yang tahu ke-ridha’an-nya. Sedangkan jawaban kedua ‘belum dimaafkan’, jawaban ini berarti ada salah satu pihak yang belum bisa menerima permintaan maaf (namun biasanya ini jarang terjadi di saat-saat lebaran). Kalaupun belum memaafkan, semestinya pula ada perjanjian atau kesepakatan-kesepakatan tertentu yang harus dibuat untuk dapat menebus atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat.

Nah, dari semua ucapan permintaan/permohonan maa f yang dibalut dalam suasana lebaran dapat saya simpulkan sebagai berikut:
-          Setiap ucapan selamat lebaran semestinya juga dibalas dengan mengucapkan kembali selamat lebaran yang dimaksud, sekalipun sudah sama-sama tahu.
Contoh sederhana : “selamat lebaran ya”. Dibalas dengan, “selamat lebaran juga ya”.
-          Setiap ucapan permintaan/permohonan maaf yang disampaikan, semestinya harus dijawab (ya, dimaafkan atau belum dimaafkan).
Contoh sederhana : “mohon maaf lahir-batin ya”. Dibalas dengan, “ya, dimaafkan dan mari kita saling memaafkan. Mohon maaf lahir-batin juga ya” kemudian pastikan anda mendapatkan jawaban yang sama kira-kira begitu.

Lagi-lagi ini hanyalah opini sederhana saya saja, terserah Anda mau melakukan apa yang saya sarankan tadi atau justru mengabaikannya. Akhirnya, saya pribadi mengucapkan mohon maaf yang sedalam-dalamnya kepada Anda. Semoga bermanfaat.

Refleksi diri setelah Ramadhan, 6 Agustus 2014.

Read More …

July 25, 2014

Kekasihku Spesial

Oleh: Bentar Saputro

Sore itu menjelang maghrib dan mendekati waktu berbuka puasa, ada yang membuat saya bersemangat untuk ‘ngabuburit’. Ngabuburit kali ini sangat berbeda dari biasanya, saya diajak berkunjung ke tempat saudara-saudara yang semestinya sering untuk dikunjungi. Tempat yang di maksud berada di “Panti Asuhan Cacat Ganda - Al Rifdah” Tlogomulyo, Semarang.

Ada satu kejadian yang membuatku terkejut. Setibanya saya dan rombongan di sana, tiba-tiba saya dihampiri oleh ‘Saudari’ yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Setelah itu, dia terus memegang erat tangan saya sembari menunjukkan wajah yang ceria dan bahagia. ‘Saudari’ tersebut memiliki karakter yang hyperactive, anak tersebut terus bersuara dan mencoba untuk mengajak berkomunikasi. Memang saya tidak paham yang dia maksud, tapi saya mencoba untuk menyelami bahasa yang digunakan sekalipun hanya bahasa isyarat. Dia ceria sekali menyambut kedatangan kami. Selama saya berada di sana ‘Saudari’ tersebut duduk di dekatku dan tak ingin melapaskan genggaman tangannya dariku. Iya, dia KEKASIHKU YANG SPESIAL.

Saya sangat tersentuh, hatiku terkoyak, air mata ini sungguh tak terbendung sekalipun saya tidak sempat menjatuhkannya. Bagaimana mungkin mereka yang secara fisik menurut kebanyakan orang tidak seperti yang lainnya, mereka tidak pernah berontak “mengapa saya begini”, “mengapa saya berbeda”, “mengapa harus saya yang menerima semua ini”, “apa salahku”, “apa dosaku” ???. Jangankan berontak atau mengeluh ke sesama manusia diseklilingnya, bahkan berontak ke Tuhanpun tidak pernah. Ini dibuktikan dengan sikap dan kemuliaan hati mereka yang sanggup menjalani semua ini dengan penuh ceria, bahagia dan ikhlas tanpa complain, mengeluh apalagi berontak.

Saya meyakini bahwa Tuhan memperlakukan sangat sangat sangat SPESIAL terhadap mereka. Yang menurut pandangan kita, mereka seolah-olah kurang ‘lengkap’ namun di mata Tuhan derajat mereka ditinggikan.

Bisakah kita belajar ilmu ikhlas dari mereka?
Bisakah kita belajar tidak berontak atau bahkan mengeluh?
Bisakah kita beajar untuk tersenyum, tertawa dan bahagia sekalipun dalam keadaan sulit?

Akhirnya saya hanya bisa berkata,

Mereka yang diperlakukan khusus oleh Tuhan,
Mereka mahluk ciptaan Tuhan yang hadir dengan sesuatu yang unik
Mereka memiliki kemampuan ketajaman berpikir
Mereka memiliki kedalaman ruhaniah
Mereka memiliki kepekaan yang tinggi
Mereka yang dibahagiakan langsung oleh Tuhan

Yang apabila,
Dia berdoa, doanya mustajab
Dia tertawa, tertawanya tulus
Dia tersakiti, tak akan pernah merasa sedih apalagi perih
Dia diam, diamnya emas
Dia marah, marahnya tidak sungguh-sungguh marah

Ya Tuhan,
Jadikanku untuk semakin bersyukur
Jangan biarkanku kufur atas nikmatMu
Kuatkan hatiku untuk semakin peka
Tajamkan pikiranku
Senantiasa ingatkan aku
Senantiasa berikan teguranMu
Buka mata hatiku selebar-lebarnya
Karena hamba ingin menjadi manusia yang memanusiakan manusia
Karena hamba ingin menjadi saudara yang mensaudarakan saudara
Karena hamba ingin menjadi kekasih yang mengasihi kekasih
Terimakasih Tuhan.


Refleksi diri sendiri, 25 Juli 2014. ± 09.03 – 09.35 WIB

Berikut kemesraan saya bersama mereka.















Read More …

July 18, 2014

Senang atau Susah, Terserah!

Oleh : Bentar Saputro

Di dunia ini memang penuh dengan kejutan-kejutan yang membuat setiap penghuninya bereaksi. Reaksi yang bermunculanpun beragam, ada yang menerima setiap kejutan itu sebagai sebuah berkah, ada yang menganggap sebagai peringatan dan ada pula yang menganggap sebuah bencana yang tak berkesudahan. Entah ini sebagai bentuk ekspresi manusia atau sentuhan Tuhan yang sedang menyapa para hambaNya. Disadari atau tidak, segala apa yang terjadi di dunia sudah disetting dengan rapi lengkap dengan solusi-solusi yang ditawarkan oleh Tuhan. Beberapa kejutan-kejutan yang terjadi biasanya berkaitan dengan ruang lingkup kehidupan manusia itu sendiri mulai dari teguran, sapaan dari Tuhan baik itu bencana atau bahkan datangnya rejeki yang tak disangka-sangka. Kejutan yang dimaksud adalah senang dan susah.

Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kasih sayang dengan caraNya sendiri, yang acapkali manusia justru tidak bisa langsung ‘membaca’ dengan baik. Dikala dalam keadaan senang dan berkecukupan secara materi, manusia justru terlena dan jauh dari namanya ‘bersyukur’. Mereka dengan mudahnya tergiur dan hanyut dalam kondisi yang membawa mereka pada kesenangan sesaat. Membuat keputusan-keputusan yang jauh di luar jangkauannya, berinteraksi dengan kalangan sosial yang memiliki prestigious pada level tinggi dan seterusnya. Jika memang hal tersebut dilakukan secara sadar dan diputuskan dengan akal sehat, semuanya pasti akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Hanya saja, setiap apa yang diputuskan dalam posisi di awang-awang terkadang melahirkan keputusan-keputusan yang serampangan dan asal-asalan. Bukti nyata bahwa apa yang diputuskan secara serampangan adalah melakukan apa yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, memikirkan apa yang tidak pelu dipikirkan, menerima apa yang tidak perlu diterima hingga pada tataran mengurusi apa yang seharusnya tidak perlu diurusi. Ini semua yang akan menjerumuskan kita pada jurang keterhanyutan situasi dimana bukan pada situasi yang sesungguhnya, yang semestinya dan yang seharusnya terjadi.

Kebanyakan dari manusia sekarang ini hanya mementingkan dirinya sendiri demi kepentingan yang sesungguhnya tidak perlu dikerjakan. Hanya menuruti ego, nafsu dan keinginan sesaat saja tanpa melakukan penyortiran terlebih dahulu. Mana penting, mana baik, mana tepat, mana butuh, mana perlu, mana ingin dan lain sebagainya yang manusia itu sangat sering terjebak dalam keadaan yang cukup sulit untuk membedakannya. Ada yang hanya mengikuti rasa ‘ingin’-nya saja, padahal sesungguhnya mereka tidak ‘butuh’. Ada pula yang membuat keputusan yang dirasa sudah baik menurut kaca matanya sendiri namun belum tentu baik menurut kaca mata yang lainnya. Ada yang sudah merasa baik, namun belum tepat. Semuanya itu memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang mendalam, pemikiran-pemikiran yang cerdas dan tajam bahkan pada tingkat kontemplasi yang kuat. Tidak saja untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan juga untuk kepentingan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Karena sejatinya kita tidak hidup sendirian, justru kita berdampingan untuk membangun semacam interaksi sosial yang menumbuhkan hormonisasi kehidupan yang luwes.

Setelah melakukan pemikiran yang mendalam dan analisis yang kuat, nantinya akan melahirkan sebuah kesadaran-kesadaran baru yang mengarahkan kita untuk menentukan setiap keputusan yang akan kita ambil. Tuhan sengaja menghadiahkan sesuatu yang menyenangkan kepada manusia untuk mewujudkan tanda-tanda kebesaranNya dan kasih sayang kepada setiap hambaNya. Namun, bisa jadi setiap sesuatu yang menyenangkan justru membawa manusia menjadi lalai dan lupa diri. Hal ini disebabkan karena manusia menganggap bahwa kesenangan yang dirasakan saat itu adalah kesenangan yang dilahirkan oleh dirinya sendiri, mereka lupa bahwa sekecil apapun kejadian pasti ada campur tangan Tuhan yang menyelimutinya. Jangan dikira bahwa kesenangan juga merupakan ujian dari Tuhan. Ujian yang diberikan kepada manusia, sejauh mana mereka menyikapi setiap ujian-ujian yang datang. Kesenangan duniawi sesungguhnya juga ujian berat yang menghinggapi manusia, mengapa demikian? Karena Tuhan sengaja menguji sejauh mana manusia dapat bersyukur atas apa yang dihadiahkan kepada manusia. Semakin banyak bersyukur maka Tuhan tidak akan segan-segan memberikan lebih dari apa yang sudah dihadiahkan kepada hambaNya, karena Tuhan sudah berjanji “siapa yang bersyukur kepadaKu maka Aku akan menambahkannya”. Namun sebaliknya apabila mereka lalai dan tidak pandai bersyukur maka Tuhan akan mengambil apa yang sudah dihadiahkan tadi.

Kekuatan-kekuatan Baru
Nah, ketika Tuhan sudah benar-benar mengambil apa yang sudah diberikan kepada hambaNya manusia tidak benar-benar siap untuk menerimanya dan menyadari bahwa semua itu datangnya dari sang Pencipta. Akan beda perkara pada saat manusia berada pada posisi yang serba sulit dan susah. Mereka yang berada posisi yang demikian, biasanya akan melahirkan sikap yang tangguh tidak mudah menyerah dan tidak cengeng hanya karena pada posisi yang serba kekurangan. Sekalipun memang tidak semua manusia dapat menjadi tangguh akibat hidup susah. Banyak dari mereka yang mengambil jalan pintas hanya untuk mengejar kesenangan sesaat, apalagi di dunia. Akan tetapi bagi mereka yang tetap bersyukur meski dalam keadaan sesulit apapun cenderung menjadi manusia yang benar-benar siap menerima keadaan apapun. Dalam kesehariannya yang sederhana mereka tetap menjalani kehidupannya secara normal. Membangun interaksi-interaksi yang menciptakan kedamaian, kerukunan dan kesejahteraan menurut mereka sendiri. Kondisi susah dan sesulit apapun tidak menjadikan semua berakhir begitu saja. Mereka akan terus menghimpun kekuatan-kekuatan baru untuk mencapai pada tingkat yang mereka kerjakan, kekuatan tersebut bukan bertujuan untuk melawan keadaan yang serba susah. Mereka meyakini bahwa apa yang mereka kerjakan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras, maka Tuhanpun tidak akan tinggal diam begitu saja membiarkan hambaNya yang bersungguh-sungguh. Mereka tidak marah, tidak merasa ‘ini tidak adil’ justru ini yang akan memupuk rasa kedekatannya dengan sang Pencipta. Dengan begitu akan muncul kekuatan baru yang mereka dapatkan dari apa yang sudah mereka kerjakan selama ini.

Kekuatan tersebut bisa saja melahirkan sebuah perubahan yang menjanjikan, baik ke arah lebih baik ataupun lebih buruk. Bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada hambaNya, namun masih dalam tahap ujian. Bukankah seseorang tidak dikatakan beriman, apabila keimanannya belum diuji.

Dari semuanya itu dapat ditarik kesimpulan bahwa senang maupun susah merupakan sama-sama ujian yang dihadirkan Tuhan untuk hambaNya. Terserah akan diterjemahkan sebagai bentuk peringatan, cobaan, anugerah maupun yang lainnya itu dikembalikan lagi ke setiap manusia. Kita dituntut untuk senantiasa berpikir dan terus iqra’ dari setiap apa saja yang terjadi pada diri kita. Jangan sampai terjebak ketika hidup senang kita lupa bersyukur dan pada saat hidup susah jangan sampai mudah putus asa.
Silahkan terserah Anda!

Semarang, 18 Juli 2014 (Kantor BPMP, ± pukul 10.00 – 13.01 WIB)
Disela-sela menunggu waktu Jum’atan hingga kembali ke kantor. J


Read More …

July 17, 2014

Bukan Kucing Biasa

Oleh: Bentar Saputro

Masih dalam suasana bulan ramadhan yang penuh dengan kehangatan dalam nikmat puasa. Malam itu seperti biasa kegiatan rutin di malam hari adalah tarawih. Malam Ramadhan baru memasuki minggu pertama dan tentu saja masih banyak manusia ‘rajin’ bergegas ke rumah Tuhan untuk melakukan aktivitas layaknya di bulan yang penuh berkah ini. Suasana malam itu sungguh cerah dan sekelibat ada beberapa bintang yang nampak memancarkan kerlap-kerlipnya seakan ikut bahagia mengiringi manusia yang hendak bergegas ke rumah Tuhan. Benar saja malam itu sungguh banyak sekali manusia yang bersemangat memenuhi ‘shaf’ (barisan dalam sholat) dan hampir memenuhi sendi-sendi ruangan di rumah Tuhan tersebut. Karena rumah Tuhan tersebut berada di pusat kampus salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang tepatnya di daerah Sekaran dan menjadi kebanggaan dari warga kampus itu sendiri.

Malam itu penulis kalau tidak salah berada di ‘shaf’ baris ke 5, ketika baru datang memasuki ruangan tersebut waktu masih menunjukkan ± 7 menit menuju waktu sholat Isha’ terlihat semacam penanda jam digital yang terpampang di atas mimbar. Penulis melakukan sholat sunnah layaknya manusia yang disunnahkan sholat ketika memasuki rumah Tuhan. Waktu terus berjalan dan segera saja memasuki sholat Isya’ para jamaahpun segera bergegas berdiri mempersiapkan diri setelah mendengar lantunan ‘iqamah’. Sang nahkodapun (imam) yang memimpin jalannya sholat Isya’ sudah berdiri di barisan paling depan kemudian menginstruksikan para jamaah untuk merapatkan barisan di setiap shaf-nya. Perjalanan spiritual yang berjumlah 4 (empat) rakaat tersebut berjalan dengan khidmat dan penuh dengan kekhusyukan dan dikahiri dengan dua salam. Para jamaahpun segera melakukan wirid, dzikir dan sholat ba’diyah . Setelah beberapa saat kemudian salah satu takmir (baca= pengurus masjid) yang akan menyampaikan beberapa informasi mengenai jalannya Tarawih yang akan dilaksanakan malam itu, mulai dari laporan perolehan infaq hingga penceramah dan imam sholat tarawih berjamaah.


Read More …

July 4, 2014

Sudahkah kita Adil terhadap Tuhan


Oleh: Bentar Saputro.
Betapa luasnya kasih sayang Tuhan kepada setiap mahluk-Nya. Tidak peduli yang taat atau bahkan yang membangkang sekalipun. Ini mengingatkan kita betapa kasih saying Tuhan sungguh tak terbatas, bahkan akal pikiran manusiapun tak mampu untuk menjangkaunya. Tidak hanya kasih sayang yang dicurahkan kepada seluruh ciptaan-Nya, namun juga sifat ke-ADIL-anNya yang luar biasa. Tuhan tidak mengharapkan apa-apa dari manusia, dan sangat tidak memerlukan manusia. Namun, justru manusialah yang membutuhkan Tuhan dan justru manusia pulalah yang sesungguhnya tidak adil terhadap Tuhan. Anehnya adalah kebanyakan manusia berkoar-koar menyalahkan Tuhan, menganggap bahwa Tuhan ini tidak adil tidak sayang kepada mereka yang mengaku hamba Tuhan.

Read More …

My Tweet