January 16, 2017

Mau-Ku BUKAN Mau-mu



Pagi itu gerimis merata sepanjang jalan, bahkan sejak semalaman. Aktifitas keseharian menjadi semakin syahdu, antara mau berangkat kerja atau memutuskan untuk tetap membentangkan selimut akibat dingin yang mendera. Tapi bagaimana mungkin bermalas-malasan, sedang Tuhan saja tidak pernah malas menaburi nikmat.

Akhirnya tetap kujalankan kewajiban untuk beraktifitas yakni berangkat kerja. Sebelum berangkat, gerimis masih rajin untuk turun membasahi bumi. Segera kukenakan saja jas hujan untuk membalut tubuhku yang ringkih ini. Selama perjalanan dari rumah hingga menuju tempat kerja, ternyata hujan gerimis rata mengguyur.

Seperti biasa, setibanya saya sampai tempat kerja langsung memberi kabar pada istri. Nah, karena kebetulan istri belum berangkat kerja. Pagi itu saya katakan pada istri, “nanti apabila hendak berangkat kerja, berhati-hatilah karena jalanan licin, hujan merata membasahi jalanan.” Begitu kataku. Jam kerja istri memang berangkat agak siang.

Sesampainya di tempat kerja, saya melakukan aktifitas seperti biasanya. Hari itu kebetulan ada agenda rapat untuk sebuah kegiatan yang akan diselenggarakan di Bali. Sayapun ikut serta dalam forum rapat tersebut. Mengikuti jalannya rapat dan memperhatikan betul apa yang dibahas. Waktu menunjukkan kurang lebih sekitar pukul 10.13 WIB. Istri saya setiap akan berangkat selalu memberi kabar bahwa ia akan berangkat kerja. Sayapun kembali mengingatkan untuk berhati-hati selama perjalanan menuju tempat bekerja. Rapat masih berjalan dan membahas berbagai persiapan yang akan dilalui selama di Bali nanti.

Disela-sela rapat saya keluar ruangan untuk ke kamar kecil. Entah mengapa perasaan saya tiba-tiba merasa tidak seperti biasanya. Benar saja, baru saja saya sampai di kamar kecil tiba-tiba saya mendapat telepon dari istri. Dengan nada menangis dan sesunggukan istri saya memberi kabar bahwa baru saja ia jatuh dari motor.

Bergegaslah saya meluncur ke tempat di mana istri saya kecelakaan menggunakan sepeda motor dengan mengajak teman kantor. Setiba di sana saya langsung bawa istri ke rumah sakit terdekat. Atasan saya turut serta mengantarkan ke rumah sakit menggunakan mobil, karena kondisinya saat itu tidak memungkinkan apabila naik kendaraan roda dua.

Namanya orang Jawa, kecelakaanpun masih saja bilang ‘untung’. Alhamdulillah hanya luka ringan saja dan lebam di beberapa titik, serta ada gigi yang patah dan tidak memenuhi tatanan standar gigi pada umumnya, rompal bahasa Jawanya.

Sembari bercerita istri saya mengatakan, padahal aku itu sudah sangat hati-hati dan tidak ngebut pada saat berkendara. Namun, tiba-tiba ada mobil memotong jalanku dari arah yang berlawanan. Memang mobil itu tidak menabrakku namun aku terkejut. Untuk menghindari benturan lantas aku rem mendadak dan sangat keras rem kutekan. Sontak, aku terpelanting dari motor.

Pendapatmu tidak penting dan tidak berlaku untuk tema Nabi. Yang penting dan yang pasti berlaku adalah pendapat Tuhan. Kan Tuhan sudah sangat jelas mengumumkan kepada makhluk-makhlukNya: Wahai manusia, kalian punya kemauan dan Aku juga punya kemauan. Hendaklah kalian mengetahui bahwa yang berlaku adalah kemauan-Ku” – Daur 92 (Menshalawati Muhammad Yang Belum Lahir)

Meskipun kita sudah sangat hati-hati dan waspada dalam berkendara, namun terkadang kita tidak memperhitungkan kondisi di luar sana. Bahwa ketika berkendara dengan hati-hati, namun kita tidak pernah tahu apakah pengendara yang lain akan melakukan hal yang sama dengan kita, yakni berhati-hati dan bersopan-santun dalam berkendara.

Memang kita hanya bisa melakoni adegan kehidupan yang masih misteri. Kejadian di depan kita masih sangat gelap, tidak bisa ditebak begitu saja. Yang berlaku memang hanya kemauan Tuhan. Sekeras apapun kemauan kita, sungguh tidak akan tercapai apabila Tuhan tidak terlibat di dalamnya.

Semarang, 5 Januari 2017

Pernah dimuat di CAKNUN.com

Read More …

October 26, 2016

Lulusan KTP, Mau jadi Apa?




Beberapa waktu yang lalu saya mendapat undangan dari kampus, tepatnya dari jurusan Kurikulum dan TeknologiPendidikan (KTP) FIP UNNES di mana saya sempat ngawruh ngelmu beberapa tahun di sana. Undangan tersebut dalam rangka visitasi akreditasi jurusan. Tentunya ini kabar baik bagi semua ‘pengguna’ atau yang sedang ‘menggunakan’ jurusan ini untuk mencari ilmu.


Read More …

June 24, 2016

Balapan Nikah

Memasuki beberapa hari setelah selesai menunaikan salah satu anjuran Nabi, banyak hal yang saya alami. Sungguh nikmat yang luar biasa dari kemurahan Tuhan yang sudah begitu loman kepada semua hamba-Nya. Bagaimana tidak, doá demi doá yang dipanjatkan dan dihaturkan selalu mendapatkan jawaban dan di-ijabah kalau kata orang saleh.Anjuran tadi yang saya maksud adalah dipersatukan dengan pasangan hidup. Di mana pada awal-awal sebelum memasuki perjalanan yang memang sudah diatur oleh Tuhan sebagai sutradara kehidupan.
Lantas saya teringat pada beberapa celoteh yang dihasilkan dari lingkungan sosial akibat dari dampak psikologi sosial. Pada masa lajang atau begini saja meminjam istilahnya anak muda kekinian yaitu “jomblo”, banyak suara dari berbagai arah dan sudut menyerukan kapan nih kog belum terlihat gebetannya. Bagi sebagian orang mendengar hal ini mungkin akan merasa risih dan bisa saja tersinggung hatinya untuk kemudian memasang raut wajah yang tidak familiar.
Belum lagi ada pula yang berteriak, mau nunggu apa usia udah makin nambah, apalagi yang mau dicari, nunggu mapan? Nunggu siap?  Dan seterusnya, dan seterusnya… .
Tulisan ini bukan hanya berangkat dari pengalaman dan perjalanan si penulis itu sendiri lho ya, namun lebih dari itu. Saya hanya merasa heran dan merasa perlu untuk mengutarakan pendapat, terserah diterima atau tidak.
Pertama, urusan punya gebetan atau tidak itu sangat jauh dari yang namanya ia “laku” atau tidak, “normal” atau tidak atau bahkan mungkin tidak pernah terbesit sedikitpun untuk mengembarai yang namanya gebetan itu tadi. Tiap individu memiliki keputusannya sendiri tanpa bayang-bayang dari orang lain. Menurut saya sih, yang lebih tahu kepribadian kita ya diri kita sendiri ini. Orang di sekiling kita memang punya andil secara psikologis dalam perkembangannya sebagai bentuk interaksi kemasyarakatan dan komunikasi sosial.
Jadi, punya gebetan atau tidak, sudah laku atau belum, normal atau enggak. Itu sama sekali tidak ada urusan dengan celoteh para mahluk di sekitar kita tadi. Jadi anggaplah mereka sedang mendoakan kita dengan cara mereka sendiri. Jangan mengotori hati nurani kita dengan kemudian bersikap sinis terhadap mereka. Tidak perlu buang-buang energi untuk itu. Lah memangnya kalau sudah punya gebetan, lantas mereka akan ikut terlibat mengusung proses hingga menjadi lebih dari sekedar gebetan? Memangnya mau jadi tim suksesnya? Mau jadi penyandang dana untuk terselenggaranya suatu perhelatan? Tidak, kan?!
Kedua, bahkanpun ketika sudah menemukan pasangan yang nantinya hendak dibawa pada jalinan yang lebih serius masih saja ada yang teriak dengan suara dan ekspresi beraneka ragam. Menikah bukan soal, ndang cepet – nunggu apa dan seterusnya dan seteruuusnyaa… . Ini bukan soal cepet-cepetan, bukan balapan MotoGP ndul!
Kalau boleh menganalogikan, saya menggunakan konsep berpikir sederhana saja. Begini, ibarat manusia mau (maaf) buang hajat namun yang bersangkutan belum benar-benar ingin mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam sana maka ya tidak akan mungkin keluar. Jika tidak memang bukan karena kehendak Tuhan, ya tidak bakalan nongol. Biar bagaiamanapun mau dengan aksi ngeden sekalipun.
Jadi, kurang lebih analoginya seperti itu tadi. Betapapun dahsyatnya desakan dari sana-sini untuk segera menikah, namun Tuhan belum berkehendak sudah barang tentu ini tidak akan terjadi. Hal yang mungkin dapat dilakukan adalah peka terhadap setiap kejadian dan takdir di sekeliling kita sehingga kita mampu membaca kehendak Tuhan. Nek ora obah ya ora entuk gabah, jika menggunakan istilah Jawa. Setidaknya ya kita juga jangan ndableg-ndableg amat. Kerjasamalah dengan Tuhan, biar segera didekatkan dan dipantaskan untuk menikah.
Ketiga, saya pernah mendengar ungkapan bahwa mungkin saat ini sedang dipertemukan dengan orang yang salah supaya nantinya bertemu dengan orang yang benar (tepat). Perlu diketahui bahwa Tuhan tidak pernah main-main dalam setiap menentukan nasib hamba-Nya. Tidak ada yang namanya bertemu dengan orang yang salah hanya karena pada akhirnya tidak jadi bersanding di pelaminan. Semuanya memang Tuhan menghendaki seperti begitu adanya.
Untuk dulur-dulur di luar sana yang masih single, lajang, jomblo atau apapun istilah kekiniannya jangan khawatir untuk tidak menjadi seperti kehendak-Nya. Dengarkan saja apapun suara yang menggema, teriakan yang memekik, jeritan yang meronta untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Karena memang demikianlah cara mereka mendoakan kita supaya ndang-segera-ASAP menyusul seperti mereka.
Memang tidak mudah mendengarkan suara yang beranekaragam itu. Namun, jangan pernah sekali-kali untuk menaruh pikiran negatif terhadap siapapun.
Keep going. Just do what you have to do. Be yourself. Enjoy your life.
Menurut saya, dalam hidup mau tidak mau harus siap mendengarkan setiap pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Himpun seluruh energi, daya dan upaya untuk setidaknya memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di hidup kita. Ukirlah sejarah, bekerja keraslah, karena kita ini memang pelaku sejarah.

Semarang, Juni 2016


Sumber Gambar:
  • http://98five.com/what-makes-a-happy-and-lasting-marriage/
  • dokumentasi pribadi

Read More …

June 20, 2016

Berganti Peran


Kebanyakan kita manusia sangat gemar sekali menghabiskan waktu senggangnya dengan bermain atau hanya sekedar menikmati kebersamaan dengan keluarga, kawan, atau bahkan mungkin teman dekat. Ada banyak destinasi yang menjadi sasaran untuk menghabiskan waktu senggang. Ada yang berdiam diri di rumah sembari bersih-bersih ruangan hingga pada membersihkan halaman rumah. Ada pula yang sengaja keluar rumah untuk menikmati suasana baru, misalkan saja ke tempat-tempat wisata, café, taman kota, berkunjung ke sanak family, mall-mall (pusat perbelanjaan), swalayan, supermarket, bioskop, dan lain sebagainya. Sementara yang lainnya ada yang dengan gembira dan jingkrak-jingkrak luar biasa hanya cukup berkunjung ke tempat yang bersentuhan dengan alam, misalkan saja ‘muncak’ (naik gunung), ke pematang sawah, ladang, mencari ikan di sungai sekaligus berenang di kolam alami bentukan sungai (baca: kedung). Banyak sekali tempat-tempat yang bisa dikunjungi untuk mengisi waktu luang kita. Ada yang bepergian berdasarkan keinginan, hasrat, perasaan, dan gengsi belaka. Namun, ada juga yang bepergian yang diniatkan pada kebermanfaatan dalam mengisi waktu senggang yang memang sudah direncanakan jauh sebelum waktu senggang tersebut datang.
Bagi mereka yang berada di perkotaan, memang cukup banyak pilihan tempat-tempat yang dapat dikunjungi saat liburan tiba. Dari mulai yang sederhana hingga pada yang mewah sekalipun. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebiasaan kita dalam mengisi waktu luang memiliki sangat banyak kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang berbeda sama sekali.
Ada hal yang menarik ketika saya bepergian ke salah satu tempat pusat perbelanjaan atau bahasa modern-nya mall. Maksud dan tujuan saya datang ke sana bukan untuk mejeng atau sekedar jeng-jeng semata. Bagaimana mungkin manusia macam saya ini punya peluang untuk melakukan hal-hal yang sifatnya senang-senang layaknya manusia perkotaan. Lah wong saya ini dibesarkan dari lingkungan yang sama sekali jauh dari yang namanya kota. Ke pasar pun hampir tidak pernah, karena memang lokasinya jauh dari tempat tinggal saya. Jelas saja jauh, karena saya ini tinggalnya di desa, bahkan nggunung (semacam dataran tinggi).
Kebetulan saja setelah beranjak besar biarpun belum bisa dikatakan dewasa, saya berkesempatan untuk mengenal dan bahkan tinggal di daerah kota. Sebut saja ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Siapa yang tak mengenal Kota ini. Nah, kembali ke omong-omong soal mall tadi. Niat saya berkunjung ke mall sebenarnya hanya ingin nonton layar lebar yang sebenarnya ini untuk pertama kalinya. Itupun saya diajak kawan saya yang kebetulan sudah punya pengalaman bagaimana masuk ke tempat seperti itu. Kebanyakan orang menyebutnya sih bioskop, namun bagi saya itu hanya sebuah ruangan besar yang di dalamnya menghadirkan suguhan hiburan tertentu yang diisi oleh banyak kursi dan kursi itu dikomersilkan.
Sebelum memasuki ruangan/bioskop saya harus melalui beberapa tahapan, tentunya membeli sebuah tiket supaya saya bisa ndeprok di dalam gedung bioskop. Karena film yang akan saya tonton itu premiere, hal yang saya alami adalah berjejal-jejal dengan calon penonton lainnya untuk antre beli tiket. Cukup lama untuk mengantre sebuah kertas kecil yang bertuliskan judul film tersebut.
Setelah tiket sudah ditangan ternyata saya harus menunggu jam tayang film tersebut, karena memang film ini banyak digemari penonton. Dengan sangat ‘piye meneh’ saya harus menunggu jam tayang berikutnya. Terdamparlah saya di ruang tunggu bioskop tersebut untuk menunggu film.
Disela-sela waktu menunggu tibanya jam tayang film yang ingin saya tonton, saya duduk di ‘emperan bioskop’. Terlihatlah seorang petugas kebersihan yang ada di area gedung bioskop tersebut. Sejatinya ruangan tersebut sudah cukup bersih. Hanya saja beberapa sampah memang terlihat, namun tidak begitu kotor.
Petugas kebersihan itu masih terbilang cukup muda, dia melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat. Jauh dari yang namanya malu atau gengsi dengan jenis pekerjaan yang disandangnya sekarang. Tidak seperti kebanyakan anak-anak muda pada umumnya, dia begitu optimis dan mantap atas apa yang dia kerjakan. Anda bisa melihat lagak-lagu anak muda jaman sekarang, mereka sudah sangat modern dan hanyut pada manisnya peradaban abad 21.
Saat itu saya hanya berpikir bahwa betapa mulianya pekerjaan anak muda tersebut. Ia bekerja bukan hanya semata untuk mencari uang, namun lebih dari itu. Bisa saja ia bekerja untuk keluarganya, orang tuanya yang sedang sakit, untuk membiayai sekolahnya sendiri atau adiknya, bahkan mungkin saja ia merupakan ujung tombak keluarga. Tidak ada yang tahu. Namun yang jelas, ia melakukannya dengan keseluruhan niat dan hati yang ikhlas. Mungkin sesekali ia terbesit untuk bergabung  dan nelusup di gedung bioskop sekedar untuk menghilang penat. Tapi hal itu ia urungkan demi tugas dan kewajiban yang mesti ia penuhi.
Tidak banyak anak muda macam ini. Seandainyapun ia diberi pilihan pada alternatif kesempatan yang lain, mungkin saja ia tolak. Ia berkeyakinan lebih baik seperti ini daripada melakukan sesuatu hal melalui jalan “pintas”.
Apabila di dunia ini, ada yang namanya pergantian peran antar manusia. Ia menjalani kehidupan saya, sementara saya menjalani kehidupannya. Mungkin saja saya sendiri belum tentu sanggup melakukannya.

Semarang, 2015-2016



Read More …

June 16, 2016

Gelar Yang Tak Tersematkan



Seorang teman bertanya kepada saya. “Serius ini Pak gelarnya ga dicantumkan?” Ini berawal dari sebuah undangan yang beberapa waktu lalu saya bagikan. Memang kebetulan ada nama lengkap saya di sana.

Memang untuk keperluan tertentu, penulisan gelar diperlukan. Tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang memiliki banyak gelar akan dengan sangat mudah menuliskannya secara lengkap. Bahkan apabila gelar tersebut kelupaan ditulis dalam lembar tertentu, dengan susah payah dan usaha sekeras mungkin akan dilakukan penulisan ulang demi terteranya gelar di dalamnya.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah gelar itu benar-benar dibutuhkan? Benarkah gelar tersebut sengaja dijadikan alat untuk mengetahui identitas seseorang? Mungkinkah gelar berguna untuk membangun hubungan komunikasi sosial? Ataukah hanya untuk menunjukkan status sosial tertentu? Mungkin saja hanya untuk menunjukkan stratifikasi sosial semata?
Supaya terlihat bahwa ia merupakan orang yang berbeda dari kebayakan orang di sekelilingnya? Agar setiap orang menghormati yang memiliki gelar tersebut? Atau memang gelar tersebut di-show-kan supaya mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat?
Untuk beberapa hal, gelar memang diperlukan. Misalkan saja, gelar akademik yang memang secara administratif harus dipenuhi untuk prosedur tertentu. Pun itu tidak berlaku ketika yang bersangkutan (yang memiliki gelar) sudah tidak berada pada tempat yang semestinya menggunakan gelar. Apakah seseorang yang memiliki gelar PhD., S.Pd., Prof. lantas akan menyandangnya setiap saat?
Sedangkan ia hidup tidak hanya berlaku sebagai satu karakter saja. Bagaimana ketika ia adalah seorang ayah yang baru saja memiliki seorang anak kecil? Ketika anaknya tiba-tiba merengek (maaf) minta pipis atau bahkan buang air besar, lantas minta untuk dibersihkan setelah melakukan aktifitas tadi. Karena memang untuk ukuran anak kecil yang memang belum bisa mengerahkan segala akal dan pikirannya (nalar), jadi hanya bisa merengek pada ayahnya untuk kemudian minta membersihkan alat yang digunakan untuk pembuangan tadi. Sudah barang tentu, sebagai ayah akan membersihkan (baca: nyeboki) anaknya tersebut tanpa berpikir apakah dia memiliki gelar atau tidak. Mungkinkah hanya sekedar ingin melakukan tugas seorang ayah terhadap anaknya, lantas harus berpikir ulang terhadap gelar yang disandangnya tadi?
Ada apa dengan gelar? Mengapa harus ada gelar? Apakah gelar harus ada?
Sebagian masyarakat kita memang masih banyak sekali yang fanatik terhadap hal yang satu ini. Bahkan hanya untuk mendapatkan gelar, mereka melakukan banyak upaya. Mati-matian untuk memperolehnya, entah dengan cara yang wajar maupun yang isntant. Baik untuk kepentingan mencari ilmu maupun hanya sebatas mengejar karir semata.
Bukankah semakin orang tersebut memiliki gelar, semakin ia rendah hati dan sumeleh terhadap sesama dan terhadap apapun. Baik kepada orang yang sama-sama memiliki gelar apalagi terhadap mereka yang tidak memiliki gelar.
Jadi, kenapa saya memilih untuk tidak mencantumkan gelar? Apakah gelar tersebut benar-benar ada? Sedangkan kita dilahirkan ke dunia ini tidak membawa apa-apa sama sekali, bahkan kita ini (maaf) telanjang bulat saat lahir. Jangankan sebuah gelar, nama sajapun kita tidak punya. Nama itu dipersiapkan hanya untuk memudahkan kita memanggil satu sama lain. Nama itu sesungguhnya tidak ada, ia diada-adakan. Begitu pula dengan gelar.
Menurut hemat saya gelar hanya diperlukan pada tempat yang tepat. Bukan dijadikan alat untuk membanggakan diri, menonjol-nonjolkan diri apalagi dijadikan alat kesombongan. Bukan sama sekali.
Apapun itu gelarnya.

Sumber Gambar : http://www.nakhodaku.com/2012/07/daftar-singkatan-gelar-akademik-di-indonesia.html 

Read More …

My Tweet