January 6, 2015

Bruwun kecipir

Source: http://bit.ly/1wgeQjp
Oleh: Bentar Saputro

Seingat saya waktu itu masih duduk di bangku SMP hingga SMA. Ada hal yang sangat menarik dan membuat saya sangat gembira untuk menunggu saat-saat itu. Bruwun. Kata ini mungkin terdengar aneh dan sangat jarang ditemukan dalam obrolan-obrolan di warung, kampus, kantor apalagi di kalangan obrolan gaul anak muda jaman sekarang. Bruwun berasal dari kata Jawa, yang artinya memetik, memanen atau mengunduh. Kemungkinan besar kata ‘bruwun’ hanya akan sering terdengar di desa-desa atau bahkan di kampung-kampung pegunungan.

Sejak kecil saya tidak asing dengan kata bruwun. Tanpa disadari dalam keseharianpun saya mempraktekkan langsung aktifitas yang disebut bruwun tadi. Pasalnya, pada musim-musim tertentu (biasanya musim sehabis menanam/’tandur’ padi). Selang beberapa minggu selepas proses menanan padi selesai, biasanya terdapat galengan di sawah. Galengan adalah batasan petak di sawah yang sering dijadikan untuk lewat/melintasi dari tempat satu ke tempat lainnya. Nah, galengan tersebut dijadikan untuk tandur/menanam kecipir. Tentunya yang namanya kecipir tidak kemudian langsung ditanam melalui kecipir itu sendiri. Hal ini yang menjadi pertanyaan besar saya mengenai awal mula bagaimana kecipir itu ditanam. Dari mana benihnya? Setahu saya memang sebelum kecipir lahir layaknya kecipir, benihnya berasal dari “botor”. Lebih dulu mana kecipir atau botor? Tapi tak usahlah kita memperdebatkan itu. Mari kita salami saja nikmat Tuhan ini dengan segala misteriNya.
Botor ini berasal dari kecipir yang umurnya paling tua, sehingga dibiarkan mengering hingga kulit luarnya berwarna hitam yang di dalamnya terdapat biji kecipir berwarna coklat. Begitulah kurang lebih perjalanan si kecipir hingga menjadi botor. Atau sebaliknya, si botor yang menjadi kecipir. Mana yang lebih dulu antara kecipir dan botor? Entahlah, ini mirip dengan kisah antara ayam dan telur.

Pemandangan yang indah dan sejuk menyelimuti proses penanaman kecipir di sawah. Kala itu saya sedang menemani nenek sekaligus membantu nandur kecipir tersebut. Kami melakukan semacam kerjasama dalam hal ini. Saya dan nenek berbagi tugas. Tugas yang pertama adalah manja, sementara tugas yang kedua adalah muwur. Pasti tugas tersebut akan sangat terdengar asing oleh siapapun yang belum pernah mendengarnya. Baik, akan saya jelaskan tugas-tugas tersebut sepemahaman saya. Pertama adalah tugas manja. Ini bukan soal seseorang yang sedang kolokan bagai anak minta dimandiin oleh ibunya setiap pagi. Manja berasal dari kata panja, yakni sepotong kayu (kayu apapun saja) sepanjang ± 1,5 meter yang ujungnya dibuat runcing yang berfungsi untuk melubangi tanah pada saat nanti masuk pada proses muwur. Manja merupakan kata kerja (orang/pelaku yang melakukan kegiatan menggunakan alat bernama panja), sedangkan panja adalah kata benda (alat itu sendiri). Kemudian tugas berikutnya adalah muwur merupakan proses penyebaran benih yang dilakukan dengan memasukkan benih ke dalam tanah berlubang yang sudah dipanja terlebih dahulu. Benih yang dimasukkan ke dalam tanah tidak asal comot, namun ada batasan minimal jumlah butir benih yang dimasukkan. Benih dimaksud adalah botor. Setiap lubang yang di galengan memiliki jumlah minimal 3 – 5 butir/biji. Galengan merupakan batas petak atau semacam jalan yang berada di tengah-tengah sawah (sudah saya singguh di awal tulisan).

Kedua tugas tersebut kami kerjakan dengan sangat teliti dan penuh dengan kahati-hatian. Kami sepakat untuk berbagi tugas, manja dipegang langsung oleh nenek saya sedangkan saya didapuk untuk mengerjakan tugas muwur. Setiap tugas memiliki peran dan caranya sendiri. Proses menanan benih kecipir harus segera dikerjakan sebelum galengan benar-benar kering dan mengeras tanahnya. Ini dimaksudkan supaya pada saat proses manja, tidak diperlukan tenaga yang ekstra untuk mengerjakannya. Apabila tanah pada galengan tersebut sudah mulai mengering dan keras maka akan menyulitkan proses manja tadi. Dalam pengerjaannya proses manja dilakukan dengan cara berdiri dan menghantam-hantamkan panja ke tanah (galengan) hingga membentuk sebuah lubang yang nantinya akan ditaburi biji botor atau benih kecipir yang sudah disiapkan sebelumnya. Lubang yang dipanja tersebut diberi jarak kurang lebih 5 sampai 7 centimeter. Ini dimaksudkan agar jaraknya tidak terlalu rapat, mengingat kecipir ini merupakan jenis tumbuhan yang merambat. Hal ini dilakukan terus-menerus dengan cara melubangi tanah menggunakan panja dari pangkal galengan hingga ke ujung galengan. Itulah gambaran tugas nenek saya pada saat proses me-manja. Sementara itu, tugas saya adalah melakukan muwur, semacam menabur benih. Muwur ini dilakukan dengan cara menunduk dan biasanya mengikuti atau berada tepat di belakang yang sedang manja tadi yakni nenek saya. Mengapa tepat berada di belakang? Karena dimaksudkan supaya proses pengerjaannya berbarengan dengan proses me-manja. Apabila sampai tertinggal dengan yang me-manja, ini akan menjadi tugas berat pe-muwur untuk melakukan proses check and recheck mana saja lubang yang sudah ditaburi benih dan mana saja yang belum ditaburi benih. Tugas pe-muwur memiliki tugas ganda, antara lain (1) melakukan proses muwur itu sendiri (2) mengubur atau menutupi benih tadi dengan tanah yang ada disekitar lubang tersebut. Ini bertujuan untuk menutupi benih-benih yang sudah ditabur supaya tidak dimakan tikus, ayam dan sekutunya atau apapun saja yang biasa ‘menjarah’ area sawah.

Kami melakukan kerjasama dengan sungguh-sungguh yang berkonsentrasi pada tugas dan perannya masing-masing. Setelah kami selesai dengan tugas dan peran yang sudah dimandatkan, pada akhirnya sayapun lega karena dapat menuntaskan pekerjaan yang saya yakin tidak semua anak muda ‘mau’ melakukannya. Untuk yang baru saja saya sebutkan dengan tanda petik, saya tidak akan menjelaskan lebih detil alasan ke-mengapa-annya.

Proses menabur benih kecipir sudah selesai dan masih ada pekerjaan berikutnya untuk tahap paling pamungkas. Pekerjaan yang dimaksud adalah nglanjari. Lagi-lagi istilah yang saya gunakan ini adalah istilah-istilah yang sangat lokal bahkan mungkin ndeso, saya yakin ada istilah lain yang digunakan namun dengan maksud dan pemaknaan yang sama. Istilah nglanjari berasal dari kata lanjaran, yaitu sebuah potongan bambu berukuran ±1,5 cm yang sudah dibelah menjadi beberapa lapis untuk kemudian diruncingkan pada bagian ujungnya. Hampir sama dengan bentuk panja, hanya saja ukuran lanjaran lebih kecil dan terbuat dari bambu sedangkan panja terbuat dari kayu yang agak besar. Lanjaran ini bertujuan untuk menopang tanaman kecipir yang sudah mulai menampakkan pertumbuhannya. Lanjaran merupakan noun, sedangkan nglanjari adalah verb-nya. Yang perlu diingat adalah proses nglanjari dilakukan sekitar 1 minggu setelah tanaman kecipir mulai merambat.
Setelah kami, manusia sudah melakukan tugas dan kewajibannya hal yang dilakukan berikutnya adalah berserah dan seraya memohon kepada Tuhan. Maksud saya adalah setelah manusia sudah berusaha nandur, maka manusia sama sekali tidak memiliki kemungkinan untuk mengatur laju pertumbuhan tanaman yang sudah ditanam tadi. Mati atau hidup, tumbuh atau tidak tumbuh, subur atau tidak subur, dan seterusnya. Kita tidak memiliki kemungkinan untuk mengatur itu semua. Pasti akan ada campur tangan Tuhan yang secara langsung terlibat untuk mengatur laju pertumbuhan kecipir tadi. Apabila Tuhan sudah turun tangan maka giliran kecipir ini yang akan menjalankan tugasnya sesuai dengan perintah Tuhan. Setelah apa yang dilakukan manusia sebagai wujud usaha, ikhtiar dan upaya menanam dengan sungguh-sungguh maka Tuhan akan menaburkan cinta-Nya pada manusia dan kecipir.

Singkat cerita, tanaman kecipirpun tumbuh dengan subur dan mengeluarkan hasil yang nyata. Akhirnya kami menyambutnya dengan gegap gempita menyambut kehadiran kecipir yang nampak hijau muda nan menggoda untuk segera dipanen (baca: bruwun). Kurang lebih itulah pengalaman saya bersama dengan kecipir. Sungguh saya sangat senang melakukannya, bersamaan dengan liburan sekolah maupun tidak liburanpun saya mengalaminya secara langsung. Saya yakin pengalaman seperti ini tidak akan dijumpai pada setiap anak seusia saya waktu itu. Jangankan anak-anak yang tinggal di pelosok-pelosok perkotaan yang nota-bene nya jarang ditemukan sawah, anak-anak yang tinggal di pusat pedesaaan atau pegununganpun belum tentu memiliki pengalaman yang sudah saya jlentrehkan di atas. Namun itu semua bukan berarti mereka yang tidak pernah mengalami hal yang saya alami lantas kemudian tidak suka atau gengsi bahkan malu melakukannya, hanya saja mereka belum pernah merasakan nikmatnya itu semua. Yang harus dilakukan adalah terjun langsung dan sama-sama ‘mengalami’.

Semarang, 6 Januari 2015

Read More …

August 6, 2014

Ya, Sama-sama (Memaafkan)

Oleh: Bentar Saputro

Berawal dari perjalanan panjang yang penuh dengan perjuangan dan usaha yang sungguh-sungguh. Setelah melewati dalam kurun waktu satu bulan penuh menjalani kewajiban untuk menahan haus dan lapar bahkan menahan diri dari segala hawa nafsu yang buruk. Berikut serangkaian agenda-agenda yang menunjang semakin meningkatnya kualitas keimanan seseorang dalam bulan yang penuh hikmah dan ampunan. Setelah kesemuanya itu sudah dilalui dan bahkan dikerjakan dengan kesungguhan untuk kembali melahirkan sesuatu yang baru dalam diri manusia, tibalah manusia masuk ke dalam hari ‘kemenangan’. Ini merupakan bentuk hadiah dari Tuhan kepada manusia, setelah melalui perjalanan yang luar biasa yakni Hari Raya Idul Fitri. Semua menyambutnya dengan gegap gempita untuk merayakannya dengan penuh rasa syukur dan mendapatkan kemenangan di hari yang Fitri.

Dalam tradisi manusia Indonesia khususnya, ada yang menarik dalam rangka menyambut hari kemenangan. Mulai dari gema takbir yang terdengar dihampir setiap sudut lingkungan mereka yang merayakannya hingga hidangan-hidangan yang disajikan di hampir setiap rumah. 
Hampir di setiap hari raya Idul Fitri kebanyakan orang mengucapkan permohonan maaf kepada sesama manusia yang lainnya. Ucapan tersebut dapat disampaikan secara langsung maupun disampaikan dengan memanfaatkan bebagai media yang ada saat ini. Saya juga sering mendapatkan hal yang sama, yakni ucapan hari raya idul fitri dan permohonan maaf. Baik secara langsung maupun dari berbagai media sosial, seperti sms, BBM, WA, Facebook dan lain sebagainya.

Dari semua ucapan-ucapan lebaran dan ucapan permohonan maaf, saya mencoba untuk memahami dan memaknai ucapan tersebut. Berikut penggalan kata (ucapan lebaran dan permohonan maaf) yang pernah saya kirim : “Salam. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.”  Berbagai balasanpun masuk setelah beberapa saat saya kirimkan. Ada yang membalas dengan kata-kata yang panjang, puitis, ke-arab-araban, berpantun dan masih banyak lagi. Entah itu hanya sekedar copy-paste atau justru langsung mem-forward sms dari sumber lain.
Bukan soal puitis, ke-arab-araban, atau forward. Saya sering mendapati kata-kata bahwa ketika saya mengucapkan kata maaf, hampir kebanyakan orang yang saya jumpai langsung menjawabnya dengan ucapan ya, sama-sama. Semuanya hampir mengatakannya seperti itu. Ini yang membuat saya berpikir lebih dalam, bahwa ketika meminta maaf yang saya sampaikan ke orang lain justru yang saya dapatkan hanyalah semacam pasrah-memasrahkan kesalahan dan permohonan maaf kembali dari lawan bicara saya. Bukannya memaafkan terlebih dahulu atas kesalahan saya yang sudah diperbuat (tentunya masih dalam konteks ucapan meminta maaf), tetapi kebanyakan dari mereka justru berbalik meminta maaf atas kesalahan mereka juga.

Sederhananya begini, bahwa ketika meminta maaf semestinya ada jawaban atas permintaan tersebut. Hanya ada dua kemungkinan jawaban yang dimaksud, yaitu DIMAAFKAN atau BELUM DIMAAFKAN.
Jawaban pertama ‘dimaafkan’, jawaban ini mengindikasikan bahwa dari komunikasi dua arah ini sudah memaafkan kepada orang pertama yang kemudian dilanjut oleh orang kedua untuk mengucapkan kata meminta maaf juga kepada orang pertama. Entah ikhlas atau tidak dalam hal memaafkan tadi, hanya antara mereka dan Tuhan yang tahu ke-ridha’an-nya. Sedangkan jawaban kedua ‘belum dimaafkan’, jawaban ini berarti ada salah satu pihak yang belum bisa menerima permintaan maaf (namun biasanya ini jarang terjadi di saat-saat lebaran). Kalaupun belum memaafkan, semestinya pula ada perjanjian atau kesepakatan-kesepakatan tertentu yang harus dibuat untuk dapat menebus atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat.

Nah, dari semua ucapan permintaan/permohonan maa f yang dibalut dalam suasana lebaran dapat saya simpulkan sebagai berikut:
-          Setiap ucapan selamat lebaran semestinya juga dibalas dengan mengucapkan kembali selamat lebaran yang dimaksud, sekalipun sudah sama-sama tahu.
Contoh sederhana : “selamat lebaran ya”. Dibalas dengan, “selamat lebaran juga ya”.
-          Setiap ucapan permintaan/permohonan maaf yang disampaikan, semestinya harus dijawab (ya, dimaafkan atau belum dimaafkan).
Contoh sederhana : “mohon maaf lahir-batin ya”. Dibalas dengan, “ya, dimaafkan dan mari kita saling memaafkan. Mohon maaf lahir-batin juga ya” kemudian pastikan anda mendapatkan jawaban yang sama kira-kira begitu.

Lagi-lagi ini hanyalah opini sederhana saya saja, terserah Anda mau melakukan apa yang saya sarankan tadi atau justru mengabaikannya. Akhirnya, saya pribadi mengucapkan mohon maaf yang sedalam-dalamnya kepada Anda. Semoga bermanfaat.

Refleksi diri setelah Ramadhan, 6 Agustus 2014.

Read More …

July 25, 2014

Kekasihku Spesial

Oleh: Bentar Saputro

Sore itu menjelang maghrib dan mendekati waktu berbuka puasa, ada yang membuat saya bersemangat untuk ‘ngabuburit’. Ngabuburit kali ini sangat berbeda dari biasanya, saya diajak berkunjung ke tempat saudara-saudara yang semestinya sering untuk dikunjungi. Tempat yang di maksud berada di “Panti Asuhan Cacat Ganda - Al Rifdah” Tlogomulyo, Semarang.

Ada satu kejadian yang membuatku terkejut. Setibanya saya dan rombongan di sana, tiba-tiba saya dihampiri oleh ‘Saudari’ yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Setelah itu, dia terus memegang erat tangan saya sembari menunjukkan wajah yang ceria dan bahagia. ‘Saudari’ tersebut memiliki karakter yang hyperactive, anak tersebut terus bersuara dan mencoba untuk mengajak berkomunikasi. Memang saya tidak paham yang dia maksud, tapi saya mencoba untuk menyelami bahasa yang digunakan sekalipun hanya bahasa isyarat. Dia ceria sekali menyambut kedatangan kami. Selama saya berada di sana ‘Saudari’ tersebut duduk di dekatku dan tak ingin melapaskan genggaman tangannya dariku. Iya, dia KEKASIHKU YANG SPESIAL.

Saya sangat tersentuh, hatiku terkoyak, air mata ini sungguh tak terbendung sekalipun saya tidak sempat menjatuhkannya. Bagaimana mungkin mereka yang secara fisik menurut kebanyakan orang tidak seperti yang lainnya, mereka tidak pernah berontak “mengapa saya begini”, “mengapa saya berbeda”, “mengapa harus saya yang menerima semua ini”, “apa salahku”, “apa dosaku” ???. Jangankan berontak atau mengeluh ke sesama manusia diseklilingnya, bahkan berontak ke Tuhanpun tidak pernah. Ini dibuktikan dengan sikap dan kemuliaan hati mereka yang sanggup menjalani semua ini dengan penuh ceria, bahagia dan ikhlas tanpa complain, mengeluh apalagi berontak.

Saya meyakini bahwa Tuhan memperlakukan sangat sangat sangat SPESIAL terhadap mereka. Yang menurut pandangan kita, mereka seolah-olah kurang ‘lengkap’ namun di mata Tuhan derajat mereka ditinggikan.

Bisakah kita belajar ilmu ikhlas dari mereka?
Bisakah kita belajar tidak berontak atau bahkan mengeluh?
Bisakah kita beajar untuk tersenyum, tertawa dan bahagia sekalipun dalam keadaan sulit?

Akhirnya saya hanya bisa berkata,

Mereka yang diperlakukan khusus oleh Tuhan,
Mereka mahluk ciptaan Tuhan yang hadir dengan sesuatu yang unik
Mereka memiliki kemampuan ketajaman berpikir
Mereka memiliki kedalaman ruhaniah
Mereka memiliki kepekaan yang tinggi
Mereka yang dibahagiakan langsung oleh Tuhan

Yang apabila,
Dia berdoa, doanya mustajab
Dia tertawa, tertawanya tulus
Dia tersakiti, tak akan pernah merasa sedih apalagi perih
Dia diam, diamnya emas
Dia marah, marahnya tidak sungguh-sungguh marah

Ya Tuhan,
Jadikanku untuk semakin bersyukur
Jangan biarkanku kufur atas nikmatMu
Kuatkan hatiku untuk semakin peka
Tajamkan pikiranku
Senantiasa ingatkan aku
Senantiasa berikan teguranMu
Buka mata hatiku selebar-lebarnya
Karena hamba ingin menjadi manusia yang memanusiakan manusia
Karena hamba ingin menjadi saudara yang mensaudarakan saudara
Karena hamba ingin menjadi kekasih yang mengasihi kekasih
Terimakasih Tuhan.


Refleksi diri sendiri, 25 Juli 2014. ± 09.03 – 09.35 WIB

Berikut kemesraan saya bersama mereka.















Read More …

July 18, 2014

Senang atau Susah, Terserah!

Oleh : Bentar Saputro

Di dunia ini memang penuh dengan kejutan-kejutan yang membuat setiap penghuninya bereaksi. Reaksi yang bermunculanpun beragam, ada yang menerima setiap kejutan itu sebagai sebuah berkah, ada yang menganggap sebagai peringatan dan ada pula yang menganggap sebuah bencana yang tak berkesudahan. Entah ini sebagai bentuk ekspresi manusia atau sentuhan Tuhan yang sedang menyapa para hambaNya. Disadari atau tidak, segala apa yang terjadi di dunia sudah disetting dengan rapi lengkap dengan solusi-solusi yang ditawarkan oleh Tuhan. Beberapa kejutan-kejutan yang terjadi biasanya berkaitan dengan ruang lingkup kehidupan manusia itu sendiri mulai dari teguran, sapaan dari Tuhan baik itu bencana atau bahkan datangnya rejeki yang tak disangka-sangka. Kejutan yang dimaksud adalah senang dan susah.

Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kasih sayang dengan caraNya sendiri, yang acapkali manusia justru tidak bisa langsung ‘membaca’ dengan baik. Dikala dalam keadaan senang dan berkecukupan secara materi, manusia justru terlena dan jauh dari namanya ‘bersyukur’. Mereka dengan mudahnya tergiur dan hanyut dalam kondisi yang membawa mereka pada kesenangan sesaat. Membuat keputusan-keputusan yang jauh di luar jangkauannya, berinteraksi dengan kalangan sosial yang memiliki prestigious pada level tinggi dan seterusnya. Jika memang hal tersebut dilakukan secara sadar dan diputuskan dengan akal sehat, semuanya pasti akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Hanya saja, setiap apa yang diputuskan dalam posisi di awang-awang terkadang melahirkan keputusan-keputusan yang serampangan dan asal-asalan. Bukti nyata bahwa apa yang diputuskan secara serampangan adalah melakukan apa yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, memikirkan apa yang tidak pelu dipikirkan, menerima apa yang tidak perlu diterima hingga pada tataran mengurusi apa yang seharusnya tidak perlu diurusi. Ini semua yang akan menjerumuskan kita pada jurang keterhanyutan situasi dimana bukan pada situasi yang sesungguhnya, yang semestinya dan yang seharusnya terjadi.

Kebanyakan dari manusia sekarang ini hanya mementingkan dirinya sendiri demi kepentingan yang sesungguhnya tidak perlu dikerjakan. Hanya menuruti ego, nafsu dan keinginan sesaat saja tanpa melakukan penyortiran terlebih dahulu. Mana penting, mana baik, mana tepat, mana butuh, mana perlu, mana ingin dan lain sebagainya yang manusia itu sangat sering terjebak dalam keadaan yang cukup sulit untuk membedakannya. Ada yang hanya mengikuti rasa ‘ingin’-nya saja, padahal sesungguhnya mereka tidak ‘butuh’. Ada pula yang membuat keputusan yang dirasa sudah baik menurut kaca matanya sendiri namun belum tentu baik menurut kaca mata yang lainnya. Ada yang sudah merasa baik, namun belum tepat. Semuanya itu memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang mendalam, pemikiran-pemikiran yang cerdas dan tajam bahkan pada tingkat kontemplasi yang kuat. Tidak saja untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan juga untuk kepentingan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Karena sejatinya kita tidak hidup sendirian, justru kita berdampingan untuk membangun semacam interaksi sosial yang menumbuhkan hormonisasi kehidupan yang luwes.

Setelah melakukan pemikiran yang mendalam dan analisis yang kuat, nantinya akan melahirkan sebuah kesadaran-kesadaran baru yang mengarahkan kita untuk menentukan setiap keputusan yang akan kita ambil. Tuhan sengaja menghadiahkan sesuatu yang menyenangkan kepada manusia untuk mewujudkan tanda-tanda kebesaranNya dan kasih sayang kepada setiap hambaNya. Namun, bisa jadi setiap sesuatu yang menyenangkan justru membawa manusia menjadi lalai dan lupa diri. Hal ini disebabkan karena manusia menganggap bahwa kesenangan yang dirasakan saat itu adalah kesenangan yang dilahirkan oleh dirinya sendiri, mereka lupa bahwa sekecil apapun kejadian pasti ada campur tangan Tuhan yang menyelimutinya. Jangan dikira bahwa kesenangan juga merupakan ujian dari Tuhan. Ujian yang diberikan kepada manusia, sejauh mana mereka menyikapi setiap ujian-ujian yang datang. Kesenangan duniawi sesungguhnya juga ujian berat yang menghinggapi manusia, mengapa demikian? Karena Tuhan sengaja menguji sejauh mana manusia dapat bersyukur atas apa yang dihadiahkan kepada manusia. Semakin banyak bersyukur maka Tuhan tidak akan segan-segan memberikan lebih dari apa yang sudah dihadiahkan kepada hambaNya, karena Tuhan sudah berjanji “siapa yang bersyukur kepadaKu maka Aku akan menambahkannya”. Namun sebaliknya apabila mereka lalai dan tidak pandai bersyukur maka Tuhan akan mengambil apa yang sudah dihadiahkan tadi.

Kekuatan-kekuatan Baru
Nah, ketika Tuhan sudah benar-benar mengambil apa yang sudah diberikan kepada hambaNya manusia tidak benar-benar siap untuk menerimanya dan menyadari bahwa semua itu datangnya dari sang Pencipta. Akan beda perkara pada saat manusia berada pada posisi yang serba sulit dan susah. Mereka yang berada posisi yang demikian, biasanya akan melahirkan sikap yang tangguh tidak mudah menyerah dan tidak cengeng hanya karena pada posisi yang serba kekurangan. Sekalipun memang tidak semua manusia dapat menjadi tangguh akibat hidup susah. Banyak dari mereka yang mengambil jalan pintas hanya untuk mengejar kesenangan sesaat, apalagi di dunia. Akan tetapi bagi mereka yang tetap bersyukur meski dalam keadaan sesulit apapun cenderung menjadi manusia yang benar-benar siap menerima keadaan apapun. Dalam kesehariannya yang sederhana mereka tetap menjalani kehidupannya secara normal. Membangun interaksi-interaksi yang menciptakan kedamaian, kerukunan dan kesejahteraan menurut mereka sendiri. Kondisi susah dan sesulit apapun tidak menjadikan semua berakhir begitu saja. Mereka akan terus menghimpun kekuatan-kekuatan baru untuk mencapai pada tingkat yang mereka kerjakan, kekuatan tersebut bukan bertujuan untuk melawan keadaan yang serba susah. Mereka meyakini bahwa apa yang mereka kerjakan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras, maka Tuhanpun tidak akan tinggal diam begitu saja membiarkan hambaNya yang bersungguh-sungguh. Mereka tidak marah, tidak merasa ‘ini tidak adil’ justru ini yang akan memupuk rasa kedekatannya dengan sang Pencipta. Dengan begitu akan muncul kekuatan baru yang mereka dapatkan dari apa yang sudah mereka kerjakan selama ini.

Kekuatan tersebut bisa saja melahirkan sebuah perubahan yang menjanjikan, baik ke arah lebih baik ataupun lebih buruk. Bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada hambaNya, namun masih dalam tahap ujian. Bukankah seseorang tidak dikatakan beriman, apabila keimanannya belum diuji.

Dari semuanya itu dapat ditarik kesimpulan bahwa senang maupun susah merupakan sama-sama ujian yang dihadirkan Tuhan untuk hambaNya. Terserah akan diterjemahkan sebagai bentuk peringatan, cobaan, anugerah maupun yang lainnya itu dikembalikan lagi ke setiap manusia. Kita dituntut untuk senantiasa berpikir dan terus iqra’ dari setiap apa saja yang terjadi pada diri kita. Jangan sampai terjebak ketika hidup senang kita lupa bersyukur dan pada saat hidup susah jangan sampai mudah putus asa.
Silahkan terserah Anda!

Semarang, 18 Juli 2014 (Kantor BPMP, ± pukul 10.00 – 13.01 WIB)
Disela-sela menunggu waktu Jum’atan hingga kembali ke kantor. J


Read More …

July 17, 2014

Bukan Kucing Biasa

Oleh: Bentar Saputro

Masih dalam suasana bulan ramadhan yang penuh dengan kehangatan dalam nikmat puasa. Malam itu seperti biasa kegiatan rutin di malam hari adalah tarawih. Malam Ramadhan baru memasuki minggu pertama dan tentu saja masih banyak manusia ‘rajin’ bergegas ke rumah Tuhan untuk melakukan aktivitas layaknya di bulan yang penuh berkah ini. Suasana malam itu sungguh cerah dan sekelibat ada beberapa bintang yang nampak memancarkan kerlap-kerlipnya seakan ikut bahagia mengiringi manusia yang hendak bergegas ke rumah Tuhan. Benar saja malam itu sungguh banyak sekali manusia yang bersemangat memenuhi ‘shaf’ (barisan dalam sholat) dan hampir memenuhi sendi-sendi ruangan di rumah Tuhan tersebut. Karena rumah Tuhan tersebut berada di pusat kampus salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang tepatnya di daerah Sekaran dan menjadi kebanggaan dari warga kampus itu sendiri.

Malam itu penulis kalau tidak salah berada di ‘shaf’ baris ke 5, ketika baru datang memasuki ruangan tersebut waktu masih menunjukkan ± 7 menit menuju waktu sholat Isha’ terlihat semacam penanda jam digital yang terpampang di atas mimbar. Penulis melakukan sholat sunnah layaknya manusia yang disunnahkan sholat ketika memasuki rumah Tuhan. Waktu terus berjalan dan segera saja memasuki sholat Isya’ para jamaahpun segera bergegas berdiri mempersiapkan diri setelah mendengar lantunan ‘iqamah’. Sang nahkodapun (imam) yang memimpin jalannya sholat Isya’ sudah berdiri di barisan paling depan kemudian menginstruksikan para jamaah untuk merapatkan barisan di setiap shaf-nya. Perjalanan spiritual yang berjumlah 4 (empat) rakaat tersebut berjalan dengan khidmat dan penuh dengan kekhusyukan dan dikahiri dengan dua salam. Para jamaahpun segera melakukan wirid, dzikir dan sholat ba’diyah . Setelah beberapa saat kemudian salah satu takmir (baca= pengurus masjid) yang akan menyampaikan beberapa informasi mengenai jalannya Tarawih yang akan dilaksanakan malam itu, mulai dari laporan perolehan infaq hingga penceramah dan imam sholat tarawih berjamaah.


Read More …

My Tweet